Love, Hate, and Hocus-Pocus by Karla M. Nashar

Kalimat pertama Love, Hate, and Hocus-Pocus
"HAH!!"

Sececap Love, Hate, and Hocus-Pocus

Tidak ada kalimat yang tepat dalam menggambarkan hubungan Troy Mardian dan Gadis Parasayu selain hate at first sight. Sejak pertama kali bertemu mereka sudah saling benci. Tiada hari tanpa adanya debat kusir. Dan meski mereka diharuskan bekerja sama demi memajukan perusahaan tempat mereka bekerja, hal itu tak mengurangi intensitas pertengkaran mereka.

Menurut Gadis, Troy itu bule karbitan. Padahal Troy itu orang Indonesia asli tapi suka sekali ngomong enggres meski di sekitarnya semuanya orang Indonesia. Mewarnai rambutnya, memakai kontak lens warna-warni, dan hanya makan makanan barat. Bahkan saking "menghayati"-nya, Troy ngomong Indonesia dengan logat Inggris orang Amrik. Sungguh sulit dipercaya!

Sementara menurut Troy, Gadis itu adalah wanita yang suka mendengus kayak kuda. Ini beneran. Aku sendiri "menyaksikannya." Gadis itu memang suka mendengus-dengus. Apalagi kalau sedang dekat-dekat dengan Troy. Mungkin kalau Troy punya imajinasi yang lebih tinggi lagi, dia bakal ngira Gadis itu masih punya kuda sebagai kerabat jauh.


Masih menurut Troy, Gadis itu selalu saja cemberut. Tak berkelas karena memuja produk lokal, dan selalu menolak makanan selain makanan Indonesia. Dan tak higinis karena makan menggunakan tangan!

Lalu, apa yang terjadi bila dua rival itu suatu pagi tiba-tiba terbangun di satu ranjang yang sama, dalam kondisi tanpa sehelai benang pun yang melekat, ditambah cincin kawin yang melingkar di jari manis masing-masing, dan ingatan kabur mengenai pernikahan yang mereka lakukan?!

Ada sesuatu yang telah membuat musuh bebuyutan ini menikah! Tapi siapa dan kenapa?! Mungkinkah si gipsi misterius yang didatangkan dari Eropa pada pesta ulang tahun mereka? Dan kalau benar ia, mungkinkah pernikahan itu akibat dari Troy dan Gadis yang sama-sama tertawa keras ketika wanita itu mulai menunjukkan kemampuannya?

Citarasa Love, Hate, and Hocus-Pocus

Tak bisa berhenti tertawa. Tak bisa berhenti berdebar-debar. Itulah sensasi dan sesuatu yang kudapat dari membatja novel berjudul Love, Hate, and Hocus-Pocus yang kujadikan bekal saat perjalanan menuju kota Krian, kabupaten Sidoarjo. Namun, aku baru bisa membatjanya di perjalanan pulang karena saat perjalanan keberangkatan, aku sama sekali tidak menikmati naik bus.

Pusing dan mual menggelayuti. Aku memaksa diriku untuk melupakan kedua hal itu dengan memejamkan mata dan tidur. Tapi perjalanan dari Nganjuk ke Krian merupakan perjalanan panjang. Dan aku tidak bisa tidur terus-terusan. Selain karena takut kebablasan sampai ke Surabaya (yang merupakan pemberhentian terakhir), ada benda berharga yang cukup berat yang mesti kujaga dan kulihat secara berkala untuk kuserahkan pada seseorang.

Kok jadi cerita kisah perjalananku, ya? :))

Oke, jadi, intinya, aku mulai membatja Love, Hate, and Hocus-Pocus ini dalam perjalananku pulang ke Nganjuk. Perjalanan yang memakan waktu lebih lama dari saat keberangkatan, karena kami sempat berhenti dua kali. Sekali untuk makan siang, sekali untuk membiarkan sang pengemudi beristirahat sebab matanya tak kuasa melawan serangan kantuk. Namun, meski lama rasa mual dan pusing itu kali ini tidak menyerangku. Mungkin karena di kala pulang itu aku tidak naik bus, tapi truk.

Ya ampun, ini kenapa juga masih cerita pengalaman diri sendiri? :)))

Oke, masuk ke ceritanya.

Dua karakter utama kita, Troy dan Gadis, sama-sama kuat. Hingga karakter-karakter lain terasa biasa-biasa saja dan mudah terlupakan. Bahkan, karakter cewek yang muntjul di bab pertama yang harusnya cukup oke kalau dieksplorasi, hanya muntjul di satu bab itu saja. Bukan masalah juga dia nggak muntjul lagi, dan masuk akal juga dia tidak muntjul selain di bab pembuka, karena setting lokasinya memang berpindah dari Yogyakarta ke Jakarta.

Bila mau membandingkan, di antara dua karakter utama kita tersebut, yang paling unik jelas Troy. Gadis... Karakter kuat, cuman sudah banyak yang seperti ia di buku lain. Juga di efteve-efteve (?). Tapi untuk Troy... Aku rasa tidak ada. Atau mungkin ada, tapi aku belum pernah mengetahuinya. Aku bahkan bertanya-tanya, mungkinkah di Indonesia ada seorang pria seperti Troy?

Yah, mengingat tak ada yang mustahil, aku rasa pasti ada.

Selain Amrik wannabe, Troy itu tergila-gila dengan penampilan. Penampilannya berantakan saja, atau baunya bak kuli bangunan saja, ia langsung super panik! Dia bahkan punya peralatan make up komplit yang tampaknya selalu dia bawa kemana-mana!!

Tapi, apakah lelaki pesolek itu bisa bersikap jantan? Apalagi perusahaan tempat ia dan Gadis bekerja menghadapi masalah yang membutuhkan sikap garang ketimbang jago tampil menawan. Jawabannya? Masa kalian menduga aku bakal membukanya di sini? :)))

Yang jelas, dan sebelum sebagian kalian ilfeel, meski Troy jago dandan, sikapnya tidak melambai sama sekali. Dan, kendati mungkin sebagian dari kalian sulit mempercayainya, he's straight.

Sejak pertama kali membatja review buku ini di blognya Oky, aku sudah penasaran pakai dewa dan tahu aku akan suka pakai dewa pada novel Love, Hate, and Hocus-Pocus ini. Sayangnya, aku ngidam (?) bukunya yang cover lama, yang terasa magis-nya seperti yang terpampang di samping ini.

Tapi aku ngidamnya (?) terlambat! Aku ngidam bertepatan saat edisi cetak ulang, buku ini sudah diproduksi dengan cover baru yang menggunakan gambar menjulang (?)

Tapi, untungnya, semesta mendukungku! Lewat BangRob dan kak Dina, aku bisa mendapatkan Love, Hate, and Hocus-Pocus versi cover pertama (yeay!). Terasa magisnya, secara warna covernya ala-ala warna papirus. Tapi juga terkesan agak kotor, hahah. Sayang (lagi), sekuelnya hanya punya satu versi, versi baru yang berlatar belakang putih. Bagus, tapi kesan magisnya kurang.

Tapi setelah dipikir-pikir, rasa fantasi di Love, Hate, and Hocus-Pocus memang terasa sedikit sekali. Ibarat cubitan, cubitannya itu cubitan manja yang nyaris tak terasa sama sekali. Atau ibarat gigitan, gigitannya itu berasal dari patjar, hanya terasa geli saja (ya ampun, contohnya XD ).

For your information, meski bahasa yang digunakan Jeung Karla (?) nggak terlalu vulgar, terkesan lutju malah karena diganti dengan istilah beraroma teknis, aku menyarankan bagi kalian yang merasa belum dewasa untuk tidak membatja buku ini. Tapi kalau kalian sudah merasa dewasa (semisal kalian masih 15 tahun tapi sudah merasakan merasa dewasa), aku rasa... Bolehlah. Karena... Siap-siap, adegan pertama, alias prolognya, ada di atas ranjang!

O, o, o...

Tenang. Tentu saja adegan "itu" tidak diekspose alias tidak diceritakan, apalagi dideskripsikan. Dalam adegan prolog, adegan yang biasa disebut olahraga malam atau berkreasi membuat buah hati (?), seolah-olah sudah terjadi dan, tampaknya karena kelelahan atau malas, mereka berdua jatuh tertidur dalam kondisi tanpa seutas benang sekalipun. Nggak apa juga sih, secara mereka dalam status sudah halal alias sudah jadi suami istri. Cuman... Ingatan mereka agak korslet karena hal terakhir yang mereka ingat kuat itu mereka masih musuhan.

Meski ingatan yang "hilang" itu perlahan-lahan mulai mengisi, status ingatan itu tak terlalu diakui karena... mereka itu bak dihipnotis ketika menjalani pernikahan dan, yeah, bulan madu.

Jadi, apa yang kemudian mereka lakukan?

Tentu saja, menjalaninya. Bertingkah mesra ketika berada di dekat orang lain, secara mereka pengantin baru. Tapi begitu sendirian... Well, kalian bisa menebaknya ;))

Yang menjadi kekuatan utama selain karakterisasi tokoh utamanya, adalah chemistry antara keduanya. Meski aku sangat paham apa yang dirasakan oleh mereka-mereka yang tak sengaja jadi kambing congek ketika Gadis dan Troy adu mulut dan bersilat lidah (?), aksi Gadis dan Troy itu bikin deg-degan. Seperti sedang naik roller coaster atau sedang nonton pertandingan bulu tangkis atau seperti hendak menyatakan cinta pada seseorang!

Yang satu punya argumen, satunya punya argumen tandingan. Seolah mereka itu tercipta untuk saling berbantah.

Dan tidak hanya itu. Walau cara bitjara mereka berbeda, pikiran mereka berada dalam satu frekwensi. Gadis ngomong apa, Troy ngomong kalimat berarti sama tapi dalam bahasa lain (?)

Aku yakin kalian merasa penasaran sekarang :P #sotothetoy

Secara keseluruhan, aku sangat menikmati pakai dewa Love, Hate, and Hocus-Pocus. Nggak sabar buat ngebatja sekuelnya! :))

Udah gitu doang :)))

Love, Hate, and Hocus-Pocus

Penulis: Karla M. Nashar
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2008
Tebal: 264 halaman
Genre: Romance - Fantasi - Komedi
Seri: Love, Hate, and Hocus-Pocus #1
Score: Almost - Delicious (4,5 of 5 stars!)
Target: Adult (17 tahun ke atas!)

Posting ini diikutkan dalam Reading Challenge::

Kategori: Support Local Author

https://perpuskecil.wordpress.com/2015/01/15/lucky-no-15-reading-challenge/
Kategori: Cover Lust


0 comments:

Posting Komentar

 

I'm part of...

Follower

Berani ikutan?

http://feedmebook.blogspot.com/2016/02/master-post-tantangan-membaca-seveneves.html