Monsters of Men by Patrick Ness

Monsters of Men

Penulis: Patrick Ness
Penerbit: Candlewick Press
Tebal: IV + 604 halaman
Series: The Chaos Walking #3
Genre: Science fiction - Dystopia - Supernatural - Adventure - Suspence/thriller - British Literature
Stew score: Delicious
Target: Teen (14 tahun ke atas)

Sececap Monsters of Men

The Ask and The Answer masih sibuk saling serang, saling jegal, saling berlomba menjadi pemenang. Saking sibuknya, mereka terlambat menyadari bahwa ada satu pihak lagi yang bergabung dalam kancah peperangan: spackle.

Ya, spackle yang dulunya diketahui Todd telah punah, ternyata jumlahnya jauh lebih besar dari dugaannya. Bahkan jumlahnya jauh lebih banyak walau seluruh manusia dari The Ask and The Answer digabung!

Apakah The Ask and The Answer melupakan peperangan mereka sejenak, dan bersatu melawan spackle?

Sayangnya tidak.

The Answer yang tak berada di New Prentisstown otomatis pada awal serangan tenang-tenang saja, dan melihat dari kejauhan Mayor Prentiss dan kubu The Asknya diserang habis-habisan. Tapi meski begitu, kehebatan Mayor dalam memanfaatkan Noise [bagi yang tidak tahu apa itu Noise, bisa membaca penjelasannya di review buku pertama dan buku keduanya] dan pengalamannya dalam medan perang, mampu membuat para spackle mundur.

Hal itu juga dikarenakan persenjataan spackle tidaklah secanggih persenjataan The Ask.

Tapi meski kalah dalam persenjataan, bukan berarti mereka kalah dalam strategi. Soal jumlah tak perlu disinggung lagi kali ya. Pemimpin spackle punya strategi yang jitu yang pada akhirnya mendesak The Ask, juga The Answer.

Pertempuran akbar pun tak terhindarkan. Dan mau atau tidak, Todd mau pun Viola mesti ikut berperang jika masih ingin hidup.

Citarasa Monsters of Men

Akhir trilogi yang memuaskan, itulah kesanku sesaat setelah menutup buku ini. Kenapa gitu? Sebab Monsters of Men tidak meninggalkan jejak tanya di benakku. Meski ada hal-hal yang belum ketemu jawabannya, hal itu terasa tak penting lagi: seperti semisal bagaimana kisah awal kedatangan manusia ke New World. Toh, Mr. Ness sudah menyampaikan "maksud"-nya dengan sangat baik, bahkan sangat friendly dibaca anak-anak, yang melalui buku Monsters of Men ini terang-terangan menunjukkan bahwa perang dan perdamaian hanya dipisahkan oleh benang yang tipisnya mungkin hanya 1 nanometer.

Bila The Ask and The Answer dibagi jadi dua POV. Maka di Monsters of Men ada 1 POV baru lagi: POV seorang spackle, yang cukup sering muncul di buku prekuel. Spackle yang ingin membalas dendam pada Todd.

Dan karena ada tiga POV, tak ada satu situasi pun yang tertinggal. Walau putarannya (baca: twist) tetap bikin aku terpana.

Endingnya juga normal. Maksudku, endingnya tak bahagia tapi juga tidak sedih. Normal kayak kehidupan nyata. Tentunya dengan standar kehidupan di New World.

Bagaimana dengan romens? Satu kata saja... Akhirnya! XD

Monsters of Men mungkin yang pacenya yang paling pelan diantara kedua buku prekuelnya. Tapi justru aku curiga penulis sengaja melakukan "pemelanan" tersebut. Namun makna yang dibawanya, makna besar tentang kemanusiaan dan keberanian, tentang informasi dan komunikasi, tentang orang jahat yang entah kenapa selalu pamer kepada orang baik—tentang pengakuan, tentang prinsip dan pemikiran yang akan terus hidup, juga tentunya tentang cinta—secara universal, dan mungkin masih banyak makna lagi, justru yang paling dalam diantara kedua buku pertama. Pace yang lambat akan memudahkan maknanya yang "besar" untuk dicerna dan dipahami rasa dan teksturnya.

Overall, Monsters of Men... The Ask and The Answer... The Knife of Never Letting Go... Atau The Chaos Walking installment adalah karya yang wajib sekali untuk dibaca! Aku yakin sekali, 100 tahun dari sekarang serial ini akan jadi novel klasik. Meski penulisnya membawa pembacanya pergi jauh ke planet lain yang diberi nama (sangat sederhana sekali yakni) New World, tapi tema masalah (sosial, politik, kepercayaan [sedikit menyerempet agama tapi tidak sampai menyinggung sara], dan beberapa tema lain) yang diusungnya akan selalu aktual hingga (mungkin) akhir zaman.

P.S.
[1] Buku Monsters of Men ini aku dapatkan dari GA yang diadakan oleh kak Astrid di blognya, Books to Share. Thanks ya kak Astrid! Dengan kemenangan itu kakak telah melengkapi koleksi (utama) The Chaos Walking Installment-ku! :'D

[2] Masih ingat dengan reviewku The Knife of Never Letting Go? Di mana aku menyebut "Apa sih spesialnya Todd hingga dia diburu satu kota?" Nah, sejak di The Ask and The Answer Todd sudah menunjukkan bibit keistimewaannya. Dan di buku Monsters of Men ini, dia semakin bertambah istimewanya. Tapi aku merasa bukan itu yang menjadikannya spesial. Karena keistimewaan itu hadir dari proses pembelajaran dan latihan. Jadi apa dong yang bikin Todd spesial?

Pertanyaan itu sama seperti pertanyaan, "Jadi apa dong yang bikin diri kita spesial?"

Yang membuat Todd, juga kita, spesial adalah... Pilihan kita.

[3] Semoga ada penerbit nasional yang tergerak untuk menerjemahkan serial ini. Meski tidak menjual dari segi romens (kadar romens dalam serial ini paling banter cuman 2 dari 5 bintang), tapi sangat menjual dari segi entertainment dan isi.


Posting ini diikutkan dalam Reading Challenge::
| | read big |

0 comments:

Posting Komentar

 

I'm part of...

Follower

Hey, Jun!